Sejarah Jemaat
Imanuel Centrum
Dari persekutuan Kristen awal di pusat Kota Tolitoli pada dekade 1920-an, bertumbuh menjadi jemaat pusat — dan menjadi lokasi Sidang Sinode GPIBT pertama pada 18 April 1965.
“Dari Syukur Menuju Pembaharuan Hidup” — tema HUT ke-96, 16 Agustus 2026.
Ibadah bersama
Dirintis J.H.L. Tatontos di asrama tentara.
Tahun acuan usia
Dihitung dari HUT ke-94 (2024) dan ke-96 (2026).
Rumah gereja
Tanah keluarga Ngion; bekas rumah penjara Lonti.
Sidang Sinode I
18 April 1965 di gedung gereja Imanuel.
Persekutuan tertua di pusat kota.
Jemaat Imanuel Centrum Tolitoli termasuk persekutuan Kristen paling awal yang terdokumentasi di pusat Kota Tolitoli. Akar komunitasnya dapat ditelusuri ke keluarga Kristen dan prajurit yang hadir sekitar 1920; ibadah bersama tercatat pada 1928, pembangunan rumah gereja tercatat pada 1931, dan jemaat menjadi tempat Sidang Sinode GPIBT pertama pada 18 April 1965.
Temuan pokok kajian: usia Jemaat Imanuel Centrum (dihitung sejak 1930), usia rumah gereja (catatan 1931), dan usia Sinode GPIBT (18 April 1965) tidak boleh dicampurkan — ketiganya merujuk pada peristiwa yang berbeda.
1930 — Jemaat
Tahun acuan umur jemaat dari perayaan HUT.
1931 — Rumah gereja
Tahun pembangunan rumah ibadah pertama.
1965 — Sinode
Tanggal berdirinya GPIBT sebagai sinode mandiri.
Jejak satu abad iman.
Akar persekutuan
Menurut uraian historis GPIBT dalam tata ibadah PGI 2021, pada 1920 di Tolitoli terdapat sekitar sepuluh rumah tangga Kristen dan tiga puluh prajurit KNIL. Hadir pula pekerja, guru, dan keluarga dari Minahasa serta Sangihe/Talaud — mobilitas penduduk yang menumbuhkan persekutuan Kristen di wilayah itu.

Ilustrasi suasana persekutuan Kristen Tolitoli era 1920-an: keluarga, guru, dan prajurit.
Ibadah bersama di asrama tentara
J.H.L. Tatontos, guru asal Sangihe-Talaud, dicatat sebagai penggerak awal ibadah bersama di asrama tentara. Tonggak praktik berjemaat yang terdokumentasi sebelum adanya bangunan gereja khusus.

Ilustrasi gotong royong 1931: rumah gereja dibangun dari bahan bekas rumah penjara Lonti di atas tanah keluarga Ngion.
Tanah dan rumah gereja pertama
Keluarga Ngion memberikan sebidang tanah. Dengan sumbangan warga, jemaat membeli bekas rumah penjara di Lonti dari pemerintah seharga 25 gulden dan membangun rumah gereja di atas tanah itu. Catatan historis menyebut tiga nama majelis: J.H.L. Tatontos, D.M. Semen, dan D. Karlos.
Tahun acuan usia jemaat
Berita HUT ke-94 (10 Agustus 2024) dan liputan RRI atas HUT ke-96 (Minggu, 16 Agustus 2026) sama-sama konsisten dengan hitungan 1930. Namun tanggal dan dasar penetapan resminya masih memerlukan dokumen penetapan HUT dari Majelis Jemaat.
Menuju gereja mandiri
Sumber resmi Sinode mencatat pengutusan pelayan GMIM pada 1939: A. Rondonuwu ke Tolitoli dan A.D. Siwy ke Buol. Sidang Sinode GMIM di Manado 14–18 Desember 1964 meresmikan kemandirian GPIBT pada 18 Desember 1964.
Sidang Sinode GPIBT pertama
Diselenggarakan di gedung gereja yang kini dikenal sebagai Jemaat Imanuel Tolitoli — PGI mencatatnya sebagai penetapan Sinode mandiri dengan sepuluh jemaat awal, termasuk Imanuel/Jemaat Kota Tolitoli. Profil PGI mencantumkan Pdt. J.J.Ch.W. Wala sebagai ketua badan pekerja pertama. Hari inilah yang dipakai sebagai tanggal berdirinya GPIBT.

Ilustrasi suasana persidangan: para utusan memasuki gedung gereja, 18 April 1965.
Keberlanjutan identitas tempat
Imanuel dahulu dikenal sebagai “Jemaat Kota Tolitoli” — rapat wilayah sekitar Februari 1974 diadakan di sana, di lokasi Jemaat Imanuel Centrum sekarang. Kapan nama Imanuel dan sebutan Centrum resmi diadopsi masih perlu ditelusuri melalui keputusan majelis, warta jemaat, dan register 1960–1980-an.

Dulu dan kini: gedung lama, gedung masa kini, ibadah, dan persekutuan warga.
Melayani hingga hari ini
Rencana Paskah Pelka Pemuda 2023, Training of Trainer pelayan anak Sinode 4–7 September 2024 di Imanuel Centrum, dan HUT ke-96 (16 Agustus 2026) dengan refleksi Pdt. Sonya Paat Ogotan, S.Th. Gereja beralamat di Jl. Kapten Pierre A. Tendean No. 18, Kelurahan Panasakan, Kecamatan Baolan, Tolitoli.
Merawat ingatan, melanjutkan pelayanan.
Punya dokumen, foto lama, atau kesaksian tentang sejarah jemaat? Hubungi sekretariat — setiap arsip menyempurnakan kisah ini.